Aku mengantarnya hingga ke stasiun kereta. Adalah gadis berwajah elegan dengan slayer setengah melingkar di lehernya. Sesungguhnya aku tidak tega. Melepasnya seorang diri berkelana mencari tujuan hidupnya. Kemarin sempat terucap perasaan bersalah yang menghantuinya selama bertahun-tahun. Aku jadi tidak enak hati. Ia kemari hanya untuk sebuah jawaban maaf dariku. Dengan berbekal tas ransel berisikan keperluan seadanya, Elisa menemuiku di rumah. Kenapa tidak berkirim surat saja? Toh paling tidak setelah dua hari, surat itu juga sampai ke rumah kami. Aku yakin tukang pos bersedia mengantarnya hingga ke pelosok desa ini. "Tidak apa-apa, aku hanya merindukan desa ini," ucapnya demikian. Ibu menyediakan teh hangat dan makanan tradhisional kesukaannya. Tanya kabar dan canda tawa usai ratusan hari seolah menjelma menjadi kehangatan di sore hari. Dia memang gadis ekstrovert. Segala hal yang ada di pikirannya langsung dituangkan begitu saja. Aku suka. Sebab Elisa yang sekarang...