Langsung ke konten utama

ELISA

Aku mengantarnya hingga ke stasiun kereta. Adalah gadis berwajah elegan dengan slayer setengah melingkar di lehernya. Sesungguhnya aku tidak tega. Melepasnya seorang diri berkelana mencari tujuan hidupnya.

Kemarin sempat terucap perasaan bersalah yang menghantuinya selama bertahun-tahun. Aku jadi tidak enak hati. Ia kemari hanya untuk sebuah jawaban maaf dariku. Dengan berbekal tas ransel berisikan keperluan seadanya, Elisa menemuiku di rumah. 

Kenapa tidak berkirim surat saja? Toh paling tidak setelah dua hari, surat itu juga sampai ke rumah kami. Aku yakin tukang pos bersedia mengantarnya hingga ke pelosok desa ini.

"Tidak apa-apa, aku hanya merindukan desa ini," ucapnya demikian.

Ibu menyediakan teh hangat dan makanan tradhisional kesukaannya. Tanya kabar dan canda tawa usai ratusan hari seolah menjelma menjadi kehangatan di sore hari. Dia memang gadis ekstrovert. Segala hal yang ada di pikirannya langsung dituangkan begitu saja. Aku suka. Sebab Elisa yang sekarang tak ubahnya adalah Elisa yang dulu. Hanya saja ia bertambah tinggi. Senyumnya manis seperti gulali.

Hawa dingin di pagi ini menyeruak. Derap langkah kami mengusik senyapnya stasiun Karanggandul. Aku berjalan di sampingnya dan ia menatap keadaan sekitar. Hanya ada beberapa penjaga stasiun yang sedang bertugas serta warung-warung yang mulai buka.

"Makasih ya," ucapnya kemudian.

"Untuk apa?"

"Kau sudah mau bertemu denganku," jawabnya kemudian.

Aku pikir alasannya tidak masuk akal juga. Tentunya, jelas saja aku mau bertemu dengannya. Bagaimana tidak,
Elisa sudah begitu jauh datang ke rumahku hanya ingin bertemu denganku. Aah, maksudku... ia hanya ingin meminta maaf padaku. Aku terlalu berlebihan mengaguminya.

"Kau masih ingat? Dulu kita jualan sambil bermain di stasiun ini. Jualan ceplos sama ibu kamu dan kamu dikejar-kejar orang gila sampai ke rumah. Sampai di rumah kamu nangis sejadi-jadinya karena takut. Hahaha."

Terdengar hambar. Namun aku memaksakan diri untuk terbahak. Elisa benar. Stasiun ini penuh dengan kenangan. Untuk kedua kalinya aku mengantarmu, Elisa. Kamu tidak tau bagaimana perasaanku, Elisa. Takut kamu menghilang di kota metropolitan. Takut kamu menghilang dan terlupakan.

Deru kereta terdengar dari kejauhan. Elisa menolehkan wajahnya berusaha menatapku. 

"Aku pergi dulu ya, Rif. Kamu jaga diri baik-baik di sini. Kamu tidak perlu merindukan aku. Kalau mau, boleh kok berkirim surat padaku. Oh ya, setelah aku sampai di sana, aku akan berkirim surat padamu. Jadi kamu tak perlu bersedih begitu," Elisa menatapku lekat-lekat sambil sesekali mencekal lenganku.

Oh Elisa... seharusnya aku yang berkata begitu padamu.
Aku harap Tuhan menjagamu di sana. Aku harap kamu segera menemukan tujuan hidup di sana. Setelah itu cepatlah kembali menemui aku yang setia menunggu.

"Sampaikan salamku pada ibu ya, Rif. Maaf, aku tidak sempat pamit padanya karena beliau begitu cepat pergi ke pasar."

"Nanti akan kusampaikan,"

Kereta kian mendekat hendak menjemput Elisa yang tengah menunggu. Meski dirasa hati menjadi sunyi, setidaknya aku segera tersadar. Sebentar lagi ruang dan waktu kan menjelma menjadi rindu, sehingga tak begitu mudah bertatap muka seperti dulu.

Purwokerto, 27 Februari 2018

Komentar

Posting Komentar