Anak yang cantik. Anak baik. Anak pintar. Namanya Ami. Anggun tingkahnya, ramping bentuk tubuhnya, serta kacamata yang bertengger di depan matanya selalu membuat lidahku kelu. Adalah putri tunggal Pakdhe dan satu-satunya cucu yang paling jauh dari nenekku sejak ia kecil.
Dua bulan usai pernikahan Ami. Tidak ada kabar apa pun darinya. Entah kabar ia akan menjadi calon ibu atau kabar kepindahan rumahnya. Sepi. Tidak ada angin membawa isu tentang Ami. Bahkan ia tidak juga ke rumah kami meskipun hanya sekadar memperkenalkan suaminya itu.
Nenek terus uring-uringan. Jelas saja, aku yang satu atap dengannya begitu bosan mendengar celotehnya.
Suaranya yang parau disertai batuk-batuk sesekali membuatku khawatir. Takut kondisinya drop mengingat nenek mengidap darah tinggi dan darahnya sempat naik beberapa bulan sebelum Ami menikah. Sudah berobat ke berbagai dokter tetap saja kondisi nenek tak ubah. Maka dari itu ayah menjemput pakdhe beserta keluarganya untuk menjenguk nenek.
Tak disangka, sebuah acara lamaran sedang berlangsung. Ya ... waktu itu Ami sedang dilamar. Dari kami tidak ada yang tahu.
Beruntunglah Pakdhe beserta keluarganya segera kemari usai acaranya selesai. Begitu melihat Ami, kudapati wajah nenek berubah menjadi cerah. Dengan tulus ia mengelus rambut Ami dan mengecupnya berulang kali. Sepasang kelopak matanya nan keriput memberi tahuku betapa besar rasa rindu itu. Hingga tak kuasa sebutir air mata menetes di pipiku.
Aah, itu terjadi beberapa bulan sebelum Ami menikah. Setelah menikah, nenek terus berceloteh tentangnya.
Kata nenek, "Ami semenjak menikah kok belum pernah ke sini. Nenek ingin lihat seperti apa dia sekarang. Pasti cucuku itu tengah mengandung."
Terkadang aku tak kuasa. Namun apalah daya. Sebagai sosok yang lebih muda ayah mengajariku bagaimana cara menghadapi nenek yang sudah tua renta.
"Nenek sudah kembali seperti anak kecil. Sebaiknya kamu memakluminya. Entah itu ucapannya atau tingkahnya." Ucap ayah pada suatu hari karena aku merasa emosi.
"Tapi yah ... aku ini remaja. Jadi wajar, dong kalo aku labil. Aku emosian. Apa lagi jika disatukan dengan nenek yang sudah seperti bocah. Masa aku harus ngalah terus." Nada suaraku makin meninggi.
Ayah hanya menghela napas berat. Tanpa ada kata menyerah, beliau terus menasihati aku hingga hati ini terasa luluh. Baiklah.
Tanpa kusadari, hingga detik terakhir menutup mata, nenek masih menggumam nama Ami. Ya ... lagi-lagi memanggil Ami. Aku kesal karena di hati nenek hanya ada Ami. Aku seolah terabaikan oleh Ami.
Aku pergi, menenangkan diri hingga tak terasa mataku terlelap dalam sepi. Entah berapa lama aku terlelap. Namun ketika membuka mata, rumah telah ramai dipadati tetangga berbela sungkawa. Segera aku berlari ke dalam dan kudapati banyak orang melantunkan surah Yasiin serta tubuh renta itu tertutup kain coklat.
Aku menangis sejadi-jadinya memeluk jasad nenek. Tak kuasa hingga tubuhku terkulai lemas di pembaringannya.
Dan hati ini menjerit seraya berkata, "Oh Ami sayang ... sungguh tega dirimu. Lihatlah ... nenek tengah rindu padamu."
Purwokerto, 24 Maret 2018
Dua bulan usai pernikahan Ami. Tidak ada kabar apa pun darinya. Entah kabar ia akan menjadi calon ibu atau kabar kepindahan rumahnya. Sepi. Tidak ada angin membawa isu tentang Ami. Bahkan ia tidak juga ke rumah kami meskipun hanya sekadar memperkenalkan suaminya itu.
Nenek terus uring-uringan. Jelas saja, aku yang satu atap dengannya begitu bosan mendengar celotehnya.
Suaranya yang parau disertai batuk-batuk sesekali membuatku khawatir. Takut kondisinya drop mengingat nenek mengidap darah tinggi dan darahnya sempat naik beberapa bulan sebelum Ami menikah. Sudah berobat ke berbagai dokter tetap saja kondisi nenek tak ubah. Maka dari itu ayah menjemput pakdhe beserta keluarganya untuk menjenguk nenek.
Tak disangka, sebuah acara lamaran sedang berlangsung. Ya ... waktu itu Ami sedang dilamar. Dari kami tidak ada yang tahu.
Beruntunglah Pakdhe beserta keluarganya segera kemari usai acaranya selesai. Begitu melihat Ami, kudapati wajah nenek berubah menjadi cerah. Dengan tulus ia mengelus rambut Ami dan mengecupnya berulang kali. Sepasang kelopak matanya nan keriput memberi tahuku betapa besar rasa rindu itu. Hingga tak kuasa sebutir air mata menetes di pipiku.
Aah, itu terjadi beberapa bulan sebelum Ami menikah. Setelah menikah, nenek terus berceloteh tentangnya.
Kata nenek, "Ami semenjak menikah kok belum pernah ke sini. Nenek ingin lihat seperti apa dia sekarang. Pasti cucuku itu tengah mengandung."
Terkadang aku tak kuasa. Namun apalah daya. Sebagai sosok yang lebih muda ayah mengajariku bagaimana cara menghadapi nenek yang sudah tua renta.
"Nenek sudah kembali seperti anak kecil. Sebaiknya kamu memakluminya. Entah itu ucapannya atau tingkahnya." Ucap ayah pada suatu hari karena aku merasa emosi.
"Tapi yah ... aku ini remaja. Jadi wajar, dong kalo aku labil. Aku emosian. Apa lagi jika disatukan dengan nenek yang sudah seperti bocah. Masa aku harus ngalah terus." Nada suaraku makin meninggi.
Ayah hanya menghela napas berat. Tanpa ada kata menyerah, beliau terus menasihati aku hingga hati ini terasa luluh. Baiklah.
Tanpa kusadari, hingga detik terakhir menutup mata, nenek masih menggumam nama Ami. Ya ... lagi-lagi memanggil Ami. Aku kesal karena di hati nenek hanya ada Ami. Aku seolah terabaikan oleh Ami.
Aku pergi, menenangkan diri hingga tak terasa mataku terlelap dalam sepi. Entah berapa lama aku terlelap. Namun ketika membuka mata, rumah telah ramai dipadati tetangga berbela sungkawa. Segera aku berlari ke dalam dan kudapati banyak orang melantunkan surah Yasiin serta tubuh renta itu tertutup kain coklat.
Aku menangis sejadi-jadinya memeluk jasad nenek. Tak kuasa hingga tubuhku terkulai lemas di pembaringannya.
Dan hati ini menjerit seraya berkata, "Oh Ami sayang ... sungguh tega dirimu. Lihatlah ... nenek tengah rindu padamu."
Purwokerto, 24 Maret 2018
Komentar
Posting Komentar